Senin, 25 Juli 2011

Burung endemik Sumatra Terancam Punah

Luntur Kasumba (Harpactes Kasumba)
"Pusaka Hutan Sumatera" adalah luntur kasumba (Harpactes kasumba). Populasinya tergolong rendah walaupun hidup di habitat alami yang sesuai yaitu di hutan primer dan hutan dataran rendah bekas tebangan skala rendah.

Burung jenis ini tersebar di hutan dataran rendah tropis Sunda Besar yaitu Sumatera, Jawa, dan Kalimantan pada ketinggian kurang dari 600 meter dari permukaan laut. Namun, kini luntur kasumba sudah jarang ditemui di daerah-daerah tersebut.

Luntur kasumba berukuran besar dengan panjang 33 cm dan kepalanya berwarna hitam. Ada beberapa perbedaan antara burung jantan dan burung betina. Secara fisik, burung jantan memiliki kalung merah khas yang lebar dan bentuk bulan sabit putih di dada, sedangkan burung betina memiliki tenggorokan dan dada yang berwarna abu-abu kecokelatan dan perut cokelat muda. Namun, keduanya sama-sama beriris cokelat, kulit sekitar mata berwarna biru, paruh kebiruan, dan kaki jingga.
Julang Jambul Hitam (Aceros Corrugatus)
julang jambul-hitam (Aceros corrugatus). Burung jenis ini adalah anggota suku Bucerotidae yang terbatas di hutan primer dataran rendah dan hutan rawa sampai ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut.

Di Indonesia, burung ini tersebar di Sumatera, Kepulauan Batu, dan Kalimantan. Karena semakin sulitnya mencari burung jenis ini
julang jambul-hitam ke dalam status "Mendekati Terancam Punah" (Near Threatened/NT).

Ancaman terhadap julang jambul-hitam bukan hanya laju kehilangan habitat dan kebakaran hutan, namun juga pergerakannya yang cenderung menghindari hutan terdegradasi atau hutan sekunder.

Di dalam keluarga julang, julang jambul-hitam tergolong berukuran sedang dengan panjang 74 cm serta berbulu hitam dan putih. Tidak seperti namanya, julang jambul-hitam, jambul yang dimiliki burung ini ternyata berwarna merah. Jambul merah itu berkerenyut dan melengkung di atas kepala hingga setengah paruhnya. Jambul ini hampir mirip dengan jambul pada ayam jantan namun ukurannya lebih besar.

Paruh besarnya yang berwarna unik seperti berdegradasi warna dari kuning ke merah. Warna kuning di ujung paruh dan warna merah di pangkal paruh. Sekeliling matanya yang berwarna biru muda menambah pesona burung ini.
Cekakak Hutan Melayu (Actenoides Concretus)
raja yang bermahkota, itulah cekakak-hutan melayu (Actenoides concretus). salah satu jenis burung yang masuk dalam seri perangko "Pusaka Hutan Sumatera". Cekakak-hutan memiliki mahkota hijau yang khas di kepalanya.

Di Indonesia, burung jenis ini tersebar di Sumatera, termasuk pulau-pulau lepas pantainya, Kalimantan, dan Jawa. Persebarannya yang terbatas pada hutan dengan tutupan tajuk rapat di kawasan dengan tingkat deforestasi cukup tinggi membuat populasinya terus menurun.
Cekakak-hutan melayu berukuran sedang, panjangnya 23 cm, sedangkan bulunya berwarna biru dan merah karat. Cekakak-hutan jantan memiliki sayap menyerupai mantel biru, bagian bawah tubuhnya berwarna merah karat, dan memiliki garis hitam pada matanya. Cekakak-hutan betina memiliki sayap (mantel) berwarna hijau tua berbintik kuning.
Kuau Raja (Argusianus Argus)
Kuau raja menghadapi ancaman ganda yaitu kehilangan habitat dan perburuan liar di seluruh persebarannya sehingga populasinya cenderung terus menurun
Di Indonesia, kuau raja tersebar di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Burung jenis ini umumnya dijumpai di hutan primer kering. Mereka jarang dijumpai di hutan sekunder dan bekas tebangan sampai ketinggian 1.300 meter dpl.

Kuau raja hidup di permukaan tanah. Walaupun mereka biasa terbang jarak pendek, namun kemampuan mereka untuk berlari sangat baik.

Kuau jantan memiliki bulu yang sangat indah dengan bintik-bintik pada sayapnya. Itulah yang membedakannya dengan kuau betina. Bulu pada kuau betina terlihat lebih suram.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

free counters